Peningkatan Kesehatan Mental Anak Binaan LPKA Kelas II Sungai Raya melalui Skrining dan Promosi Kesehatan Mental

Authors

  • Prasetyo Nugroho Program Studi Diploma-III Keperawatan, Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
  • Almumtahanah Almumtahanah Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
  • Maulana Bakir Program Studi Diploma-III Keperawatan, Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
  • Fitri Chalista Amelia Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
  • Desmalia Nurhidayah Program Studi Diploma-III Keperawatan, Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia
  • Nur Lia Program Studi Diploma-III Keperawatan, Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.53770/amjpm.v5i1.435

Keywords:

Mental health, Preventive, Promotive

Abstract

Masalah kesehatan mental merupakan isu kesehatan global yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Masalah kesehatan mental dapat terjadi pada siapa saja, terutama individu yang mengalami krisis saat berada di lingkungan penjara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi masalah kesehatan mental melalui skrining kesehatan mental dan memberikan promosi kesehatan mental untuk meningkatkan status kesehatan mental anak binaan. Hasil skrining kesehatan mental anak binaan menunjukkan bahwa 22% dikategorikan sebagai abnormal, 15% sebagai borderline, dan 63% sebagai normal. Selain itu, tingkat pengetahuan mengenai masalah kesehatan mental ditemukan baik, yaitu sebesar 88%. Pentingnya layanan kesehatan mental bagi anak binaan adalah sebagai deteksi dini terhadap masalah kesehatan mental. Promosi kesehatan mental dilakukan untuk menjaga status kesehatan mental agar anak binaan memiliki mental yang kuat dan sehat. Peran tenaga kesehatan sangat penting dalam mendukung keberadaan layanan kesehatan mental. Selain itu, kebijakan dan standar layanan kesehatan mental telah disediakan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Namun, implementasi layanan kesehatan mental di LPKA Kelas II Sungai Raya belum optimal karena keterbatasan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, hal ini menjadi dasar dilakukannya kegiatan implementasi layanan kesehatan mental yang dapat bermanfaat bagi anak binaan.    

References

Barnert, E., Applegarth, D. M., Aggarwal, E., Bondoc, C., & Abrams, L. S. (2020). Health needs of youth in detention with limited justice involvement. Children and youth services review, 118, 105412. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2020.105412.

Ditjenpas. (2019). Petunjuk Pelaksanaan Layanan Kesehatan Mental/Jiwa Bagi Tahanan, Anak Dan Narapidana Di Lapas Rutan, LPKA Dan RS Pengayoman. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Retrieved from: http://www.ditjenpas.go.id/petunjuk-pelaksanaan-layanan-kesehatan-mentaljiwa-bagi-tahanan-anak-dan-narapidana-di-lapas-rutan-lpka-dan-rs-pengayoman.

Ditjenpas. (2024). Laporan penghuni Lapas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Retrieved from: https://sdppublik.ditjenpas.go.id/

Hilman, D. P., & Indrawati, E. S. (2018). Pengalaman menjadi narapidana remaja di Lapas Klas I Semarang. Jurnal Empati, 6(3), 189-203. https://doi.org/10.14710/empati.2017.19748.

Imbach, D., Aebi, M., Metzke, C. W., Bessler, C., & Steinhausen, H. C. (2013). Internalizing and externalizing problems, depression, and self-esteem in non-detained male juvenile offenders. Child and adolescent psychiatry and mental health, 7(1), 1-8. https://doi.org/10.1186/1753-2000-7-7

Lyu, S. Y., Chi, Y. C., Farabee, D., Tsai, L. T., Lee, M. B., Lo, F. E., & Morisky, D. E. (2015). Psychological distress in an incarcerated juvenile population. Journal of the Formosan Medical Association, 114(11), 1076-1081. https://doi.org/10.1016/j.jfma.2014.03.011

Nugroho, P. A. (2015). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kebermaknaan Hidup Pada Narapidana Remaja Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang. BIMIKI (Berkala Ilmiah Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia), 3(2), 9–20. Retrieved from: https://bimiki.e-journal.id/bimiki/article/download/78/76

Pat, P., Richter-Sundberg, L., Jegannathan, B., Edin, K., & San Sebastian, M. (2021). Mental health problems and suicidal expressions among young male prisoners in Cambodia: a cross-sectional study. Global health action, 14(1), 1985229. https://doi.org/10.1080/16549716.2021.1985229

Pechorro, P. S., Vieira, D. N., Poiares, C. A., Vieira, R. X., Marôco, J., Neves, S., & Nunes, C. (2013). Psychopathy and behavior problems: A comparison of incarcerated male and female juvenile delinquents. International Journal of Law and Psychiatry, 36(1), 18-22. https://doi.org/10.1016/J.IJLP.2012.11.003

Penner, E., Roesch, R., & Viljoen, J. (2011). Young offenders in custody: An international comparison of mental health services. International Journal of Forensic Mental Health, 10(3), 215-232. https://doi.org/10.1080/14999013.2011.598427.

Putri, L. P. Y. K. (2023). Edukasi Kesehatan Mental di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Karangasem, Bali. To Maega: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 6(3), 588-597. https://doi.org/10.35914/tomaega.v6i3.1959

Rochmawati, D. H. (2014). Hubungan antara Konsep Diri dan Kemampuan Memaknai Hidup pada Narapidana Remaja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Semarang. Jurnal Keperawatan Soedirman, 9(3), 198-204. Retrieved from: https://www.jks.fikes.unsoed.ac.id/index.php/jks/article/view/614/339

Schwalbe, C. S., Gearing, R. E., MacKenzie, M. J., Brewer, K. B., & Ibrahim, R. W. (2013). The impact of length of placement on self-reported mental health problems in detained Jordanian youth. International journal of law and psychiatry, 36(2), 107-112. https://doi.org/10.1016/j.ijlp.2013.01.003

Syahfitri, W., & Putra, D. P. (2021). Kesehatan mental warga binaan di lembaga pembinaan khusus anak. JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia), 6(2), 226-232. https://doi.org/10.29210/30031175000

Trisnawati, I. O. (2023). Karakteristik Nilai The Strength and Difficulties Questionnaire untuk Skrining Kesehatan Mental pada Anak Didik Baru di Lembaga Pembinaan Khusus Anak di Jakarta, Indonesia: Studi Cross-Sectional. Community Mental Health and Prevention, 3(1), 45-55. Retrieved from: https://cmhp.lenterakaji.org/index.php/cmhp/article/view/90

Unayah, N., & Sabarisman, M. (2015). Fenomena kenakalan remaja dan kriminalitas. Jurnal Sosio Informa, 1(2), 121-140. https://ummaspul.e-journal.id/JENFOL/article/view/434

Vincent, G. M. (2012). Screening and assessment in juvenile justice systems: Identifying mental health needs and risk of reoffending. Technical Assistance Partnership for Child and Family Mental Health. Retrieved from: https://www.ojp.gov/ncjrs/virtual-library/abstracts/screening-and-assessment-juvenile-justice-systems-identifying

Downloads

Published

2025-08-31

How to Cite

Nugroho, P., Almumtahanah, A., Bakir, M., Amelia, F. C., Nurhidayah, D., & Lia, N. (2025). Peningkatan Kesehatan Mental Anak Binaan LPKA Kelas II Sungai Raya melalui Skrining dan Promosi Kesehatan Mental. Ahmar Metakarya: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 148–153. https://doi.org/10.53770/amjpm.v5i1.435